Unggul dalam Mutu Berdaya Kompetitif

Unggul dalam Mutu Berdaya Kompetitif
LOGO KSC

Minggu, 26 Desember 2010

Pembaharuan Pesantren


A. Sistem Pendidikan Pesantren Saat Ini
Pesantren adalah institusi pendidikan yang berada di bawah pimpinan seorang atau beberapa kiai dan dibantu oleh sejumlah santri senior serta beberapa anggota keluarganya. Pesantren menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan kiai sebab ia merupakan tempat bagi sang kiai untuk mengembangkan dan melestarikan ajaran tradisi, dan pengaruhnya di masyarakat. Menurut Nurcholish Madjid, pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang ikut mempengaruhi dan menentukan proses pendidikan nasional. Dalam perspektif historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia(indigenous ) sebab lembaga yang serupa pesantren ini sudah ada di Nusantara sejak zaman kekuasaan Hindu-Budha. Dalam hal ini, para kiai tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga-lembaga tersebut. Sedangkan tujuan pendidikan pesantren adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran yang tinggi bahwa ajaran Islam bersifat komprehensif. Selain itu, produk pesantren juga dikonstruksi untuk memiliki kemampuan yang tinggi dalam merespons tantangan dan tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu, dalam ranah nasional maupun internasional. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 Pasal 3).
Di tengah kompetisi sistem pendidikan yang ada, pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua yang masih bertahan hingga kini tentu saja harus sadar bahwa penggiatan diri yang hanya berorientasi pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Maka pesantren harus proaktif dan memberikan ruang bagi pembenahan dan pembaharuan sistem pendidikan pesantren dengan senantiasa harus selalu apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan dan pragmatisme budaya yang kian menggejala. Hal ini bisa dijadikan pertimbangan lain bagaimana seharusnya pesantren mensiasati fenomena tersebut.

Sistem pendidikan pesantren yang ada sekarang begitu bervariasi hal ini terjadi karena pesantren harus selalu waspada terhadap pargamatisme budaza dalam mengembangkan sistem pendidikanya agar tidak keluar dari ruh pesantren itu sendiri dan tujuan dari sistem pendidikan nasional. Disamping itu, bervariasinya sistem pendidikan pesantren terjadi karena beberapa faktor
Pertama, kolonialisme dan sistem pendidikan liberal. Sebagaimana diketahui,
pada dasawarsa terakhir abad ke-19, Belanda mulai memperkenalkan sistem pendidikan liberal. Tentu saja, dengan hadirnya lembaga pendidikan tersebut, posisi pesantren semakin terancam. Meskipun demikian, kecurigaan pesantren terhadap ancaman lembaga pendidikan kolonial tidak selalu berwujud penolakan yang a priori. Karena, di balik penolakannya, ternyata diam-diam pesantren melirik metode yang digunakannya untuk kemudian mencontohnya. Fenomena “menolak sambil mencontoh”, demikian Karel Steenbrink (1994) mengistilahkannya, tampak dalam perkembangan pesantren di Jawa. Ini terlihat, misalnya, dengan diajarkannya pengetahuan umum semisal bahasa Melayu dan Belanda, sejarah, ilmu hitung, ilmu bumi, dan sebagainya.
Kedua, perubahan orientasi keilmuan pendidikan pesantren.
Tidak seperti pada abad XVI-XVIII, orientasi keilmuan pesantren abad XX tidak lagi terpusat ke Hijaz, melainkan merambah ke wilayah Timur Tengah lainnya, semisal Mesir, Baghdad, atau bahkan ke Eropa. Perluasan jaringan intelektual yang tidak saja ke Hijaz ini, tetapi juga ke wilayah lainnya, turut mewarnai produk keilmuan pesantren dan diversivikasi literatur yang dihasilkannya. Lahirnya karya-karya intelektual dengan ragam disiplin keilmuan, misalnya, menjadi bukti luasnya cakupan keilmuan pesantren abad ini. Tidak seperti pada abad-abad sebelumnya di mana intelektual pesantren hanya melahirkan karya-karya tentang akidah, fiqih, dan tasawuf, intelektual pesantren abad ini di samping tiga disiplin itu telah menghasilkan khazanah intelektual yang kaya, meliputi ilmu falak, mantiq, sejarah, kritik sosial, dan semacamnya.
Ketiga, gerakan pembaharuan Islam.
Munculnya gerakan pembaharuan Islam di tanah air sebagai pengaruh pembaharuan Islam di belahan dunia lainnya mulai tampak pada awal abad ke-20 ini lagi-lagi menjadikan pesantren sebagai sasaran kritik. Sebagai dampak dari situasi ini, pesantren meresponsnya secara beragam, mulai dari penolakan dan konfrontasi hingga kekaguman dan peniruan naif terhadap pola pendidikan Barat. Oleh karena itu, tidak sedikit pesantren yang tetap pada pola lamanya dengan menolak segala hal yang berbau Barat. Bertahannya pesantren-pesantren dengan sistem salaf, misalnya, dapat dijadikan contoh fenomena ini. Sebalikya, di pihak lain, munculnya sejumlah pesantren dengan label dan simbol-simbol yang tampak modern menjadi contoh lain kuatnya pengaruh pendidikan Barat yang diusung para pembaharu bagi dunia pesantren. Namun juga jangan dilupakan, ada respon lain di mana pesantren tetap mempertahankan keunikankannya yang masih relevan (al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih), namun di pihak yang lain, ia secara selektif mengadaptasi pola-pola baru yang bisa menopang kelanggengan sistem pendidikan pesantren (al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).
Akibat dari 3 faktor tersebut dan perbedaan cara merespon keadaan tersebut, munculah variasi sistem pendidikan pesantren yang terjadi sekarang ini ke dalam 3 bagian;Pertama, Sistem pendidikan pesantren salafiyah (pesantren-pesantren yang berada di pedalaman pedesaan).Kedua, sistem pendidikan pesantren modern (Pesantren Gontor).Ketiga, Sistem pendidikan pesantren kombinasi/gabungan (Pesantren Tebu Ireng Jombang). Lunturnya pamor Hijaz sebagai pusat kosmikngelmu -yang bisa jadi karena mundurnya sistem madrasah di tanah Arab selama abad ke18 dan abad ke-19 (Van Bruinesen, 1995)- juga dapat dijadikan faktor munculnya beragam variasi sistem pendidikan pesantren berikut diversifikasi kurikulum yang diajarkannya. Dan ternyata, dalam perkembangannya, pesantren (diharapkan) mampu melerai kesenjangan, atau bahkan pertentangan, antara pendidikan agama di satu pihak dan pendidikan umum di pihak yang lain.
B. Perkembangan Zaman
Dalam perkembanganya pondok pesantren di Indonesia dewasa ini tidak terlepas dari perkembangan pondok pesantren dari jaman ke jaman, hal ini bisa dilihat dari seluruh sejarah Indonesia. Enam Abad sebelum berkembangnya imperium Sriwijaya dan Mataram Kuno, penduduk wilayah nusantara dikenal sebagai bangsa bahari dan mampu meramu peradaban dari luar menjadi bagian dari peradaban nusantara yang hebat. Bisa dilihat dari peninggalan- peninggalannya, yakni: Candi Borobudur, Prambanan, kekayaan peradaban melayu dan jawa kuno, huruf sanskrit menjadi huruf honocoroko, sistem pemerintahan kepulauan, dan sistem pertahan kelautan yang sangat tangguh. Tahun 1400 – 1600, Indonesia menjadi pusat kegiatan perdagangan muslim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar